Home / TOKOH / Siapa Habib Husein Luar Batang?

Siapa Habib Husein Luar Batang?

Jakarta-Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak disinggahi para wali—ulama Muslim yang diyakini memiliki beragam keramat atau kemampuan di luar nalar. Salah satunya Habib Husein Luar Batang.

Hingga saat ini, makam beliau di Sunda Kelapa, Jakarta Utara ramai dikunjungi peziarah dari dalam maupun luar negeri. Kebanyakan dari mereka datang mengharap berkah atau jalan keluar masalah, namun tak jarang juga yang datang hanya ingin mengenal siapa sebenarnya Habib Husein Luar Batang.

Habib Husein bin Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus—nama asli Habib Husein Luar Batang—berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan. Beliau hijrah meninggalkan tanah airnya setelah mendapat restu dari sang Ibu. Keputusan untuk pergi menyebarkan Islam ia ambil pasca Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad—gurunya meninggal dunia tahun 1720.

Awalnya, ia singgah di Gujarat, India, namun tak lama pindah ke Nusantara. Beliau sempat menyambangi Aceh, Banten, Cirebon, dan Jawa Timur. Namun akhirnya memutuskan untuk menetap di Sunda Kelapa.

Sunda Kelapa adalah sebuah kota lama, juga dikenal dengan pasar ikannya Jakarta, pada waktu itu termasuk bandar yang paling ramai di Pulau Jawa. Di tepi pantai terlihat rumah-rumah nelayan dan warung-warung yang mereka kelola sebagai usaha sampingan. Bagian daratnya ditumbuhi hutan bakau yang lebat. Di sanalah Habib Husein membuat surau (musala), sebagai tempatnya beribadah dan berkhalwat.

Pada malam hari banyak orang datang ke tempatnya untuk mengaji dan memohon bantuan doa. Sedangkan pada siang hari Habib Husein gemar memancing, menelusuri tepian pantai. Kian hari semakin banyak penduduk memadati Sunda Kelapa, terutama para pengusaha yang datang dari berbagai daerah.

Demikian pula majelis pengajian dan surau Habib Husein makin ramai dikunjungi orang untuk belajar agama. Sehingga bangunan surau itu pun diperbesar menjadi masjid. Dengan begitu, penyiaran agama Islam di Kampung Baru (sekarang dikenal Kampung Luar Batang) dan sekitarnya, berkembang semakin pesat.

Alkisah, suatu malam Habib Husein kedatangan tamu yang basah kuyup dan meminta pertolongan. Ia mengaku tawanan dari kapal dagang milik orang Tionghoa dan akan dikenakan hukuman mati. Karenanya ia sekarang jadi buronan kompeni (VOC).

Habib Husein pun memberinya perlindungan. Ketika pasukan kompeni datang siangnya, mereka menagih dikembalikannya si tawanan. Namun dengan tegas Habib Husein membelanya. “Saya akan melindungi tawanan ini dan saya menjadi jaminannya,” katanya.

Pasukan kompeni sadar akan pendirian Habib Husein dan akhirnya melepaskan tawanan tersebut. Sang tawanan pun merasa berhutang budi dan kagum dengan karisma dan kepribadian lembut Habib Husein—ia akhirnya memeluk Islam.

Kabar ini tersiar dan mereka yang ingin menimba ilmu makin banyak datang ke Kampung Baru.

Karisma dan kepopuleran Habib Husein pun mulai meresahkan Belanda. Maka diambil lah tindakan, Habib beserta pengikutnya dijatuhi hukuman tahanan di wilayah Pancoran (Glodok), rumah tahanan itu dikenal dengan nama Seksi Dua.

Di sana, penjaga rumah tahanan sering melihat keanehan. Pada malam hari mereka sering melihat Habib Husein memimpin solat jamaah para pengikutnya di ruangan besar rumah tahanan itu, bahkan warga pun ikut solat berjamaah di luar rumah. Di saat bersamaan, mereka melihat Habib sedang tidur di kamarnya yang tidak pernah dibiarkan terbuka.

Peristiwa demi peristiwa Belanda akhirnya meminta maaf pada Habib dan pengikutnya atas penahanan yang tidak berlandaskan hukum yang jelas, dan membebaskan semuanya.

Nama Luar Batang sendiri—yang kini tidak hanya menjadi julukannya, namun menjadi nama mesjid dan kampung disana memiliki kisah sendiri; pasca wafatnya beliau.

Pada makam Habib Husein tertulis, Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus wafat pada hari Kamis 27 Ramadhan 1169 H bersamaan 24 Juni 1756.

Belanda saat itu memiliki peraturan yang mengharuskan pendatang dimakamkan di Tanah Abang. Saat jasad Habib Husein akan dimakamkan di Tanah Abang, berkali-kali jenazah beliau selalu tidak ada dalam keranda (kurung batang). Tetapi tetap berada di dalam ruang kamar beliau. Sehingga akhirnya jenazah Habib Husein pun diputuskan untuk dimakamkan di dalam kamarnya yang kini menjadi area ziarah dan wisata rohani.

Itulah asal muasal julukan beliau, yang jasadnya selalu ditemukan di “Luar Batang”. (Diolah dari berbagai sumber/Gambar: jakarta.go.id)

Sumber:www.sejarahri.com

Bagikan :

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *