Home / PESONA WISATA / AYO MENYUSURI LORONG WAKTU DI KOTA MALANG

AYO MENYUSURI LORONG WAKTU DI KOTA MALANG

Indonesiadaily.co.id-, Sehari sebelum Festival Malang Tempo Doeloe 2017 digelar awal November 2017, beberapa jurnalis yang bergabung dalan Forum Wartawan Pariwisata di Kementerian Pariwisata, melihat dari dekat persiapan-persiapan tersebut setelah vakum lebih kurang 6 tahun. Memang sebagian jurnalis yang melakukan media trip ke kota Malang, Provinsi Jawa Timur itu lebih memilih mengunjungi ke Puncak B 29 dan bertandang ke Pura Mandara Giri  Semeru Agung,  ketimbang berkeliling menikmati pesona kota Malang yang berhawa sejuk, namun di tengah kota sudah dihinggapi situasi kemacetan.

Puncak B29

Untuk mencapai Puncak B 29 dan bertandang ke Pura Mandara Giri Semuru itu, jelas dibutuhkan tenaga prima, stamina, dan fisik yang sehat. Selain waktu ke kedua tempat di ketinggian itu tidak bisa ditempuh secara cepat serta singkat. Rekan-rekan jurnalis berangkat tengah malam, mengingat memburu matahari terbit yang begitu indah dilihat dari Puncak B 29. Sementara jurnalis lain lebih nyaman keliling kota Malang, sambil menengok persiapan Festival Malang Tempo Doeloe 2017 yang hanya sehari diselenggarakan. Tentunya terlalu singkat menggelar festival yang konon bakal dijadikan andalan kota Malang untuk dijual kepada wisatawan mancanegara, yang apa mungkin membuka lembaran kenangan kota Malang hanya dalam tempo sehari ?. Jelaslah tidak mungkin.

Tetapi upaya menghidupkan kembali Festival Malang Tempo Doeloe itu merupakan keniscayaan, dan sebagai bentuk edukasi untuk mengenal sejarah budaya kota Malang layak disemangati. Masyarakat digugah melawan lupa, betapa sejarah budaya kota Malang penuh warna dan makna. Kendati festival itu belum dibuka, esok baru dibuka, saat jurnalis dan penggiat pariwisata bertandang, dalam suasana persiapan yang kental, toh seperti berada dalam lorong waktu.

Kami pun menyusuri lorong waktu, terutama dalam hal kuliner. Banyak menu kuliner jaman dulu yang diketengahkan dan tentu ditonjolkan pada festival tersebut.  Alih-alih tema festival mengambil lokasi sepanjang Ijen Boulevard bertajuk Memarut Klapa Jadi Apa.

Kenapa musti Memarut Klapa, baca Klopo ?. Hal ini mengingatkan kita, lagi-lagi supaya melawan lupa, bahwa di Kepulauan Nusantara banyak menyimpan khazanah kuliner yang diolah dari bahan kelapa. Lagi pula di Kepulauan Nusantara memiliki ribuan tanaman pohon kelapa yang tentu menjadi kekayaan sendiri.

Dalam menyusuri lorong waktu di festival itu, kami menyaksikan orang-orang yang mengenakan ragam busana tempo dulu, juga terlihat pernik-pernik perabot rumah tangga masa lalu, maupun dipajang buku-buku terbitan lama alias kuno. Serta merta dijajakan makanan menu jaman dulu.

Lokasi Festival Malang Tempo Doeloe ini sangat tepat, dan bisa dijadikan wisata budaya ataupun wisata sejarah. Sebab pada sekitar lokasi festival, pernah terjadi palagan alias perang besar, tepatnya di Jalan Siak yang berhimpitan dengan Jalan Ijen, yakni pertempuran Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dengan penjajah. Pada pertempuran besar itu, tentara pelajar kita berguguran, dan peristiwa tersebut merupakan simbol kuat bagi kota Malang. Betapa semangat perjuangan musti digelorakan.

Festival Malang Tempo Doeloe

“Bahwa event ini adalah pelopor konsep event nostalgia di Indonesia. Lama tidak digelar, akhirnya digelar kembali pada awal November 2017. Maka digelar kembali Festival Malang Tempo Doeloe berarti warga kota Malang, juga wisatawan dari daerah lain, bisa bernostalgia dengan masa lampau sekaligus bisa melihat dokumentasi lawas tentang kota Malang”, ujar Dwi Cahyono penggagas Festival Malang Tempo Doeloe kepada Indonesiadaily.

Lorong waktu itu kami jelajahi dan kami rasakan, teristimewa kuliner menu jadul, seperti nasi tiwul, nasi jagung, nasi punten, dan jajanan cenil. Sayang kami berada dalam lorong waktu yang singkat,  padahal ingin lebih lama menikmati dan merasakan situasi kenangan masa silam, masa jaman kolonial, namun siapa tahu pada Festival Malang Tempo Doeloe 2018 justru kami bisa bertandang tidak secara singkat dan mendadak mampir, sebelum festival dibuka. Sungguh Festival Malang Tempo Doeloe patut digelar terus dan masuk dalam agenda tahunan, demi melawan lupa, demi juga menarik wisatawan. (snm; foto din)

Bagikan :

About Yayo Sulistyo

Check Also

JOBB DAN SITUS KOTA KAPUR MENGANGKAT MARTABAT PARIWISATA BABEL

Indonesiadaily.co.id-, Tidak lama mendarat di bandara Dipati Amir, Pangkalpinang, ibukota provinsi Kepulauan Bangka Belitung, segeralah ...

BANGKA BELITUNG KINI MEMILIKI BANYAK PILIHAN DESTINASI WISATA

Indonesiadaily.co.id-, Jalan-jalan ke Bangka Belitung, sekarang tidak hanya keindahan pantai saja, atau sekolah tempat syuting ...

DARI DEPATI AMIR MENUJU JEMBATAN EMAS, MAMPIRLAH DULU DI WARUNG YUK NGOPI

Indonesiadaily.co.id-, Kini Jembatan EMAS di Pangkalpinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menjadi ikon baru destinasi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *