Home / PELANGI / POSTETHNICS DARI TIMUR ROCK N BLUES RASA RADAKBANU BAND DI MANDIRI I SEE GBK FESTIVAL 2019

POSTETHNICS DARI TIMUR ROCK N BLUES RASA RADAKBANU BAND DI MANDIRI I SEE GBK FESTIVAL 2019

Indonesiadaily.co.id-, Bermusik semata untuk mempresentasikan Indonesia pada dunia, itulah filosofi yang dianut oleh RadakBanu yang menjadi band pembeda di gelaran Mandiri I See GBK Festival 2019, yang sarat dengan genre reggae pada hari ke empat gelaran. Mereka membangun feel yang sama meski dari genre yang berbeda beda pada awalnya. Dan sepanjang lima tahun perjalanan, semua personil bisa meredam ego masing-masing, untuk saling mengisi harmoni dari masing masing alat yang dimainkannya. Dan RadakBanu pun terus mencari chemistry itu dan terus memperkayanya.

RadakBanu I See Fest 2019

RadakBanu yang merupakan Band asal Lombok, NTB ini, dicuplik dari nama perusahaan ayah salah satu personil band bernama PT. RadakBanu. Radak bermakna menikam, menusuk. Banu dari kata Bin atau dapat di bilang keturunan. Tapi kalau digabung (RadakBanu, red) menjadi semacam metafora dari generasi yang baru dan di ajang Mandiri I See GBK Festival, sekaligus RadakBanu sebagai try out atau warming up sebelum rilis mini album mereka di pertengahan bulan Oktober nanti.

Berkonsep musik ethnics Indonesia Timur dengan memasukkan sejumlah genre yang ada RadakBanu tampil energik, lepas, dan sarat makna dengan kekayaan musikalisasi dari PostEthnic Rock or Blues yang disuguhkannya. Benar-benar asyik untuk di dengar penuh instrumen yang menggoda untuk bergoyang. Ethnics Rock yang sungguh berhasil dibawakan para personil RadakBanu, yang terdiri atas Irfan (drum or perkusi); Eldam (bass); Uparawi (vokalis), Nungky (gitaris) dan Daniel (Keyboard, Flute dan instrument ethnic lainnya).

“Kita sebut Postethnics karena banyak element ethnicsnya. Sedangkan postnya itu setelah ethnics. Yakni bermusiknya orang-orang yang tidak pernah bermain musik tradisi secara penuh sehingga hasilnya jadi setengah tradisi dan atau setengah dari apa yang di mainkan. Jadi bermainnya musik pun tidak pernah dipaksakan komposisinya, mengalir, dan saling mengisi. Jadi tidak pernah ada yang memaksa satu sama lainnya”, jelas Nungky gitaris RadakBanu.

RadakBAnu I See Fest 2019

Begitulah warna Postethnic yang rupawan, kaya bebunyian akustik tradisi dengan ditingkahi gebukan drum yang variatif, distorsi gitar yang kadang melengking untuk dibiarkan menjadi disharmoni dalam keharmonian sejumlah alat musik yang dimainkannya seolah sendiri-sendiri. Meski kerap diselipkan sejumlah lirik dengan bahasa bahasa daerah, toh lirik yang kritis dihadirkan untuk semata menuju hal yang positif atas perubahan perubahan pemikiran, sikap serta prilaku yang menuju kebaikan, tambah Irfan sang drummer. Sedangkan untuk musikalisasi lagu seperti di lagu Six Six Six  secara instrument merupakan pengalaman pribadi Eldam sang Bassist, saat berada di Gunung Rinjani yang berketinggian 666 m dpl, yang memrepresentasikan kelelahan, perjuangan dan semangat untuk mencapai puncak Rinjani tersebut, lalu di puncak itulah tercipta instrumen ini, Six Six Six.

Lewat lagu six six six dan kancil, serta lagu berbahasa Bandara Neira, kritik sosial, peristiwa demonstrasi yang menggoda dan yang hadir meramaikan belakangan ini, ada amarah, bahkan kerinduan akan cinta pada sang kekasih serta alam raya, dibalut apik, dan lagi lagi asik untuk dinikmati dalam harmoni yang disharmoni. Selanjutnya dalam lagu Kancil, diambil dari sudah semakin langkanya kisah Sang Kancil.

RadakBanu I See Fest 2019

“Untuk mengembalikan kenangan tersebut dihadirkanlah Kancil. Instrumen perkusi yang kental serta gebukan drum yang menghentak menjadi ruh dari Sang Kancil, dimana liriknya tak pernah sama dibuat lantaran selalu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi hari ini. Jadi liriknya sangat situasional sekali”, ujar Uparawi sang vokalis RadakBanu.

Sementaara dari lagu Banda Neira yang dibawakan RadakBanu Band, sebenarnya ceritanya mengambilnya dari semacam folklor lewat sebuah kritik sosial dari kondisi Banda dewasa ini. Kita banyak melihat permasalahan di Banda, ada banyak jalan yang sudah rubuh atau rusak parah sudah bertahun-tahun belum juga di perbaiki.

Desa-desa punya uang kemana ada kritik-kritik juga. Kalau kita ke jalan tanahrata melewati tumpukan sampah yang membuat tercemarnya lingkungan dan pemerintahan setempat pun tidak melakukan tindakan untuk menanggulangi sampahnya. Jadi dalam mengungkapkannya banyak bahasa yang dicuplik dalam lagu ini, seperti parantang kongkong, bakurengkeng, bakuhelang, bakutola, baku tolong. Mengandung dimaknai dengan tawar menawar.

RAdakBanu I See Fest 2019

“Tapi diluar itu ada kisah dimana menceritakan anak muda yang ceritanya didorong dari atas gunung api, lalu terjatuh. Tapi ending dari lagu ini, pada akhir atau pada waktunya kelak, anak muda itu pun kita tolong juga”, pungkas Uparawi di backstsge Mandiri I See GBK Festival 2019. (ela; foto tcs)

Bagikan :

About admin

Check Also

BAHAS HPN 2020, PENGURUS PWI PUSAT TEMUI SEKJEN KOMINFO

IndonesiaDaily, Jakarta,- Ketua Umum PWI Pusat Atal S. Depari melakukan kunjungan ke Gedung Kemenkominfo lantai ...

ST12 REBORN SAPA ST SETIA DENGAN SINGLE REPACKAGE KEPINGAN HATI

Indonesiadaily.co.id-, Setelah pecah kongsi dengan Charly Van Houten, band ST 12 terus mencari vokalis baru ...

RAJAWALI TELEVISI ( RTV) LUNCURKAN PROGRAM SEKOLAH STAND UP MILLENIAL

Indonesiadaily.co.id-, Sebagai stasiun televisi yang membidik pemirsa anak dan keluarga Rajawali Televisi (RTV) menghadirkan ragam ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *