Home / PELANGI / LUPUS, BALADA SI ROY, DAN KEBIMBANGAN GENERASI ZAMAN NOW

LUPUS, BALADA SI ROY, DAN KEBIMBANGAN GENERASI ZAMAN NOW

Indonesiadaily.co.id-, Generasi tahun 1985-an mengenal sosok fiktif bernama Lupus. Sosok rekaan Hilman Hariwijaya ini pertama kali hadir di Majalah Hai yang sekarang ini sudah tidak terbit, melalui cerita pendek. Hilman Hariwijaya menulis cerita pendek itu seminggu sekali muncul di Majalah Hai dan kemudian dijadikan cerita serial di majalah tersebut yang pembacanya remaja.

Tangkaplah Daku Kau Kujitak

Alhasil serial Lupus menjadi ikonik remaja, penampilan Lupus ditiru total bahkan menjadi sosok panutan. Serial itu lantas diterbitkan menjadi bentuk buku, dan ada beberapa buku berseri Lupus, lalu Lupus pun diangkat ke media film. Film pertama tentang Lupus yang dibintangi Ryan Hidayat dan disutradarai Achiel Nasrun,ditambahi judul Tangkaplah Daku Kau Kujitak. Film Lupus yang pertama sukses, lalu dibuat lagi sampai lima. Film Lupus yang kelima ini tetap disutradari Achiel Nasrun  dan Ryan Hidayat tetap pula memerankan Lupus. Lupus V diproduksi tahun 1991 diberi tambahan judul  Ich…. Serem.

Tokoh rekaan Lupus yang diciptakan Hilman, nama akrab pengarangnya adalah fenomena dalam segala aspek. Para remaja pada zaman itu begitu gandrung, memuja, mengidolakan, dijadikan panutan, serta seolah-olah bukan tokoh rekaan dan hadir dalam keseharian. Dari sisi industri, aspek ekonomi Lupus menjadi barang dagangan yang laku alias laris manis. Bukunya berulang kali dicetak dan filmnya dipadati penonton. Dari sisi kepenulisan banyak penulis yang menulis kisah seperti, cara bertutur , model Lupus.

Sejatinya perjalanan lakon Lupus mengalami masa surut dan meredup. Hal ini sesuai dengan perkembangan zaman, serta merta perubahan mesti terjadi dan penemuan teknologi baru tidak mungkin terbendung. Di zaman Lupus belum ada telepon genggam.

Meredupnya Lupus, pasti ada gantinya. Muncul sosok hero yang disebut Si Roy ciptaan Gola Gong, penggiat literasi yang sekarang berdomisili di kota Serang, provinsi Banten. Si Roy ini sosok idealis, petualang sekaligus pengembara, memang dikemas dalam buku bertajuk Balada Si Roy. Kisah Si Roy ini belum difilmkan, tertunda melulu tetapi saat ini ada persiapan untuk difilmkan.

Balada Si Roy

Baik Lupus maupun Si Roy merupakan sosok yang bimbang, galau, dan gelisah. Demikianpun masyarakat (kaum tua) mulai masuk ranah cuek, memikirkan dirinya sendiri, dan tidak peduli terhadap lingkungan di sekalilingnya. Itulah sebabnya kaum muda mencari panutan dan masalah itu menjadi berpaling pada tokoh semacam Lupus maupun seperti Si Roy.

Jiwa-jiwa yang gundah, resah, dan bimbang pun merasuk pada generasi muda zaman now yang sesungguhnya tidak mempunyai pegangan nilai dan sikap berfikirnya terbolak balik. Media sosial begitu menggila, sehingga kau muda di zaman now menjadi gagap dan selalu rindu pada masa lalu. Kaum muda zaman now ini terlihat  dari penggunaan kata atau ungkapan yang tidak benar dan mencampur adukkan penggunaan kata serta menyingkat kata.

Di zaman now tidak ada lagi sosok model Lupus atau Si Roy, namun toh muncul juga tokoh yang sekarang ini ditampilkan dalam film berjudul Dilan 1990. Sebelum diangkat ke media film, Dilan tercetak dalam bentuk buku.Judul bukunya juga Dilan, sedang angka 1990 adalah waktu tatkala Dilan melakoni hidup. Buku Dilan pun laku keras, terus muncuk Dilan 1991 dan seterus. Buku berjudul Dilan ini ditulis Pidi Baiq yang juga menulis skenario film Dilan 1990, sedangkan yang menyutradarai Fajar Bustomi dan dibantu Pidi Baiq.

Tokoh Dilan diperankan Iqbaal Ramadhan adalah siswa Sekolah Menengah Atas di Bandung yang juga generasi bimbang. Sosok Dilan ini punya pacar bernama Milea yang diperankan Vanesha Prescilla. Hubungan Dilan-Milea ini yang menjadi menu utama dalam film, tentunya pula ada dalam tuturan di buku. Baik yang berada di buku maupun pada media film sosok Dilan mempunyai kekuatan nilai yang sama. Tokoh Dilam dalam buku digambarkan sosok penuh dengan kegamangan dan menemukan semangat hidup yang bersandar pada nilai cinta, gambaran dalam film pun demikian, Gamang, tak peduli masa depan, tapi percaya dengan adanya cinta sejati.

Tidak ubahnya dengan generasi zaman now yang juga bimbang dalam menatap masa depan, namun percaya masa depan itu bakal diraih dari kekuatan cinta. Maka tidaklah heran jika setiap generasi pada zaman apapun namanya, selalu ingin kembali menikmati masa lalunya. Maka tidaklah kaget, generasi zaman now yang bimbang itu begitu menyaksikan film Dilan 1990 ini  akan terlena ingin merasakan seperti Dilan, sebagaimana yang terjadi di Bandung tahun 1990.

Film Dilan 1990

Masalah itulah yang menjadi daya jual film Dilan 1990 yang mulai main di bioskop-bioskop kota besar di seluruh Indonesia tanggal 25 Januari 2018, film garapan Fajar Bustomi  dan Pidi Baiq dibesut secara teliti, suasana Bandung tahun 1990 yang masih asri, hati-hati dan alur cerita yang membuat perasaan penonton terombang-ambing atas karakter Dilan, juga cintanya terhadap  Milea. Inilah, Dilan 1990 sebuah film yang digarap elegan, yang bisa menyenangkan hati penonton. (snm; foto dok)

Bagikan :

About Yayo Sulistyo

Check Also

QASIDAH QASIMA HADIR DALAM SALAM RELIGI 2018 NAGASWARA

Indonesiadaily.co.id-, Meski bulan Ramadan tahun ini ditandai dengan lesunya industri musik Tanah Air,  hal ini ...

RAMADAN SCTV HADIR DENGAN SEDERET PROGRAM ISTIMEWA

Indonesiadaily.co.id-, Pada program Ramadan tahun 2018 SCTV hadir dengan sederet program istimewa. Setiap tahunnya selama Bulan ...

ANAK DI BULLY AKIBAT AYAH DIPENJARA KARENA TIDAK MELAKUKAN KEJAHATAN

Indonesiadaily.co.id-, Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Hal ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *