Home / BUMI HIJAU / Eksotisme Taman Hutan Batu Rammang-Rammang

Eksotisme Taman Hutan Batu Rammang-Rammang

Sulawesi Selatan-Berwisata ke Sulawesi Selatan, jangan sampai melewatkan kawasan taman hutan batu Rammang-Rammang. Taman hutan batu? Ya, kawasan ini layak disebut demikian karena memang masih bagian dari bentangan pegunungan kars terbesar kedua yang ada di dunia.

Pantas disebut taman, karena berbagai jenis bebatuan dengan bermacam bentuk laksana pahatan ada di Rammang-Rammang ini. Umumnya adalah batu kapur, sejenis batu karang berbagai ukuran. Mulai dari yang hanya satu meter hingga yang besar dan tingginya mencapai puluhan meter.

Untuk menikmati pahatan alam dari bebatuan itu, bisa dilakukan dengan berperahu menyusuri sungai yang membelah pengunungan. Sebuah dermaga kecil menjadi titik awal memulai petualangan menyusuri sungai Rammang-Rammang. Selama sekitar 15 menit menaiki perahu bermesin tempel, panorama alam Rammang-Rammang bisa dinikmati.

Di sungai tersebut, sejumlah batu-batu besar berserakan tak beraturan. Batu-batu itu seolah ‘tumbuh’ dari dasar sungai lalu muncul di permukaan. Ada beberapa yang terlihat seolah diletakkan bertumpuk bersusun-susun. Namun jika melihat bentuknya, rasanya tak mungkin jika hal itu sengaja dilakukan manusia, karena ukurannya yang sangat besar.

Bagi pengemudi perahu seperti Daeng Baso, batu-batu tumbuh yang berserakan di sepanjang aliran sungai itu bukan masalah. Dengan lincah dia bisa membelokkan perahunya mengindari bebatuan tersebut.

Sungai yang dilalui pun lumayan lebar, sekitar enam atau tujuh meter. Tetapi di beberapa titik memang ada yang menyembit. Bahkan hanya selebar satu meter dan hanya bisa dilewati satu perahu.

Wah, pemandangan yang sangat eksotis rasanya. Tatkala mendongakkan kepala menyaksikan pahatan gunung kapur dengan gua-gua yang menganga. Lalu sesekali terdengar suara teriakan burung memecah keheningan.

Perahu bermotor tempel itu akan membelah sungai yang tenang. Aroma rumbia serta pohon bakau sesekali menyeruak terbawa hembusan angin. Setidaknya ada dua kali perahu harus menerobos bukit batu raksasa yang memiliki rongga dan muat dilewati perahu.

Setelah berperahu sekitar 10 menit, Anda akan tiba di pelabuhan kecil di tepi sawah. Mata betul-betul dimanjakan oleh pemandangan lukisan alami. Bayangkan, sebelum perahu berhenti, Anda disambut lempengan karang raksasa yang permukaannya rata. Di bawahnya ada ceruk yang lumayan luas dan setinggi sekitar satu meter. Ceruk itu bisa ditempati sekadar duduk-duduk melepas kepenatan.

Lalu saat naik dari perahu, melangkah beberapa meter saja, hamparan sawah membentang sepanjang mata sampai ke ujung bukit kars. Persawahan di Desa Salenrang ini dipagari bentangan bukit kars yang indah. Tingginya bervariasi ada yang menjulang mencapai lebih dari 50 meter.

Kawasan Rammang-Rammang berada di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulsel. Letak desa ini sekitar 40 km di sebelah utara Kota Makassar. Untuk menjangkaunya, kawasan Rammang-Rammang dapat ditempuh melalui jalur darat dengan kendaraan bermotor. Jika berangkat dari Kota Makassar, bisa ditempuh dengan waktu sekitar dua jam. Namun jika langsung dari Bandara Hasanuddin, waktu tempuhnya bisa hanya 30 menit saja.

Nama Rammang-Rammang sendiri berasal dari Bahasa Makassar yang berarti awan atau kabut. Mengapa dinamakan demikian, karena menurut warga, dahulu kawasan ini selalu diselimuti awan atau kabut yang selalu turun di pagi hari.

Kawasan Rammang-Rammang sangat mudah dijangkau karena terletak hanya beberapa meter dari jalan raya lintas provinsi. Sebuah jembatan kecil di jalan raya, menjadi tempat pemberhentian kendaraan untuk selanjutnya menuju dermaga penyeberangan.

Untuk memulai perjalanan dengan perahu tempel menyusuri sungai, ada tiga pilihan perahu yang bisa digunakan. Pertama, perahu bermuatan satu hingga empat orang dikenakan tarif Rp 200 ribu. Jika terdiri atas lima hingga tujuh orang, dikenakan biaya Rp 250 ribu. Sedangkan untuk kapasitas terbanyak yakni delapan hingga sepuluh orang dikenakan tarif RP 300 ribu. Tarif tersebut sudah untuk biaya perjalan perahu pergi dan pulang.

Saat ini ada sebanyak sembilan perahu milik masyarakat sekitar yang secara bergantian mengangkut wisatawan yang ingin menikmati panoram alam Rammang-Rammang. Daeng Baso, salah satu pemilik perahu mengatakan sembilan perahu itu bisa membuat dua hingga tiga kali perjalanan dalam sehari. “Kita sistemnya antri, jadi semua akan kebagian giliran, kecuali sudah ada yang dipesan duluan,” ujarnya.

Menurut Daeng Baso, kawasan Rammang-Rammang mulai diperkenalkan sebagai aktifitas wisata sejak 2001. Namun saat itu belum terlalu banyak orang yang tahu tentang Rammang-Rammang. Namun dari tahun ke tahun, dia mengatakan semakin banyak wisatawan yang datang ke tempat ini.

Dari kegiatan mengangkut wisatawan yang berperahu, dia mengaku bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang lumayan, mencapai Rp 2,5 juta sebulan. Namun selain dari hasil membawa perahu, dia juga masih memiliki pendapatan dari hasil sawahnya.(*)

Sumber: www.republika.co.id

Bagikan :

About admin

Check Also

MENAGIH JANJI PERTAMINA,
MENDUKUNG VISI PEMBANGUNAN ENERGI MASA DEPAN

Jakarta,- Krisis pemanasan global serta semakin menurunnya kualitas udara di kota-kota besar akibat polusi menjadi ...

PEMERINTAHAN JOKOWI SIAP REDISTRIBUSI 21,7 JUTA HEKTARE LAHAN KE RAKYAT

Jakarta,- Pemerintahan Presiden Jokowi telah melalui tahun 2016 dengan beberapa apresiasi atas kemampuan menjaga momemtum ...

TIM KOORDINASI PELESTARIAN DAN PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN ALAM INDONESIA

IndonesiaDaily, Jakarta,- Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dulu bernama Kementerian Koordinator ...

One comment

  1. keren banget nih kayak lewat terowongan batu besar – besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *