Home / BUDAYA / PADA AWALNYA DIBUAT PELUKIS TAPI KINI PELUKISNYA DILUPAKAN

PADA AWALNYA DIBUAT PELUKIS TAPI KINI PELUKISNYA DILUPAKAN

Indonesiadaily.co.id-, Di tengah silang pendapat atau debat mengenai masalah perfilman Indonesia tentang Undang-Undang Perfilman yang tidak bernyali, monopoli bioskop, eksistensi Badan Perfilman Indonesia yang masih dipertanyakan, dan masalah peredaran yang begitu timpang, di seminar maupun pada forum diskusi resmi maupun obrolan warung kopi pekerja film, maka siapa sangka yang mau peduli dengan pameran lukisan cat di atas Poster Film Indonesia di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, di kawasan Kuningan ,Jakarta.

Pameran Poster Film

Pameran lukisan Poster Film Indonesia diselenggarakan dalam rangka 23 Tahun Yayasan Pusat Perfilman  Haji Usmar Ismail mulai dipajang pertengahan Desember 2017, dan entah sampai kapan diturunkan panitia, tapi semoga menjadi pameran permanen, mengingat poster film kerap diabaikan dalam rangkaian produksi film, alih-alih poster film sekarang ini, di zaman now dibuat dan dikerjakan secara digital.

Padahal dulu di zaman old, poster film dibuat oleh pelukis, tidak terkecuali pelukis professional, termasuk yang jebolan Perguruan Tinggi, maupun pelukis bakat alam, atau pelukis amatiran. Kini perubahan yang demikian pesat, dan perubahan itu sendiri harus terjadi di setiap saat, maka poster film yang dibuat pelukis terpinggirkan. Termarginalkan, bahkan dilupakan, tentu juga pelukisnya. Dulu saat poster film dipandang sebagai karya seni tersendiri, pada setiap Festival Film Indonesia era tahun 1980-an, diberikan penghargaan yang diwujudkan berupa Piala S Tutur.

Dulu yang sekarang ini berusia 60 tahun dan beranak cucu, jika melintas perempatan Senin yang melanjutkan berjalanan ke Salemba atau ke Jatinegara, Jakarta, pasti mempelototi baliho,bukan lagi poster film, yang dikerjakan pelukis pelukis terampil spesialis,  lantaran melukis adegan film dengan judul tertentu. Sekarang ini baliho film yang berukuran gede di perempatan Senin sudah berganti wajah, tidak lagi dilukis melainkan ditampilkan dengan visual canggih yang serba digital.

Poster Film Di Perempatan Senen

Kemana para pelukis poster film Indonesia saat ini ?. Pasti ada yang meninggal dunia, atau pelukis poster film yang muda-muda, generasi penerus, tetap melukis tapi melukis obyek lain ataupun beralih profesi. Walau demikian para pelukis poster film ini tetap memiliki kerinduan untuk melukis poster film yang hasilnya dipamerkan di gedung PPHUI di kawasan Kuningan, Jakarta.

Maka sejumlah 40-an lukisan yang dipajang, dan dikuratori penggiat perfilman Akhlis Suryapati, patut ditatap, dinikmati sekaligus dicermati. Inilah lukisan cat di atas kanvas Poster Film Indonesia  yang merupakan sebagian karya asli dari Poster Film Indonesia era 1970-198O-an.

Dalam pameran tersebut bisa dilihat karya Kristanto yang melukis poster film Di balik Kelambu,  perupa Yoyok melukis poster November 1828, Maman SP yang menggoreskan poster film Hatiku Bukan Pualam dan karya  Agus Susanto yang melukis poster film Ratu Pantai Selatan.

Sejak kelahiran media film, poster menjadi etalase publikasi sebuah film. Mulanya dibuat dengan tujuan menginformasikan film yang diproduksi. Sementaran poster didefinisikan  sebagai karya desain  grafis yang menorehkan komposisi gambar dan huruf  dengan aplikasinya. Untuk itu poster film, sesungguhnya mendekati pada gambar ilustrasi yang bahasa latinnya lustrate, artinya menerangi atau memurnikan.

Sejarah pun mencatat bahwa awalnya poster berupa maklumat atau semacam surat edaran yang ditulis pada panel kayu atau tembok, itu terjadi di Italia dan Yunani yang kapan persisnya tidak jelas. Dituliskan pula pada catatan sejarah, pelukis Henri de Toulouse-Lautrec, dan Alphonse Mucha, akhir tahun 1800-an  membuat poster diproduksi pada batu litograf. Sedang poster kuno ditemukan Aloys Senefelser, tahun 1798 di Munich.

Pelukis Poster Film

Perkembangan seni poster, tidak terkecuali poster film, memang tidak terduga-duga wujud fisiknya serta kebanyakan dibuat dengan menggunakan kecanggihan  teknologi (pada saat ini)  komputer dengan mengandalkan program grafis, foto, atau drawing. Jadi tanpa berpanjang panjang, pameran lukisan cat di atas kanvas Poster Film Indonesia di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismai itu adalah maklumat atau surat edaran buat insan perfilman Indonesia yang masih mencari jati dirinya.

Benarkah film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kenyaatan film asing masih leha-leha beredar dan mengeruk untung melimpah ruah dari kocek rakyat Indonesia ?. Pertanyaan menggantung yang memerlukan jawaban pasti. Semoga pameran itu, dan tidak diturunkan, mampu menerangi film Indonesia yang masih berada di dipinggir, apalagi pelukis poster film yang posisinya makin merana lantaran digitalisasi yang menggerusnya. (snm; foto din)

Bagikan :

About Yayo Sulistyo

Check Also

KOLABORASI DUA KEMENTERIAN MENGGELAR BUDAYA MARITIM 2017

Indonesiadaily.co.id-, Berkolaborasi melakukan program kerja dengan menjalin kebersamaan dan menggulirkan kreativitas, harapan, visi dan misi ...

DIALOG ARTISTIK INDONESIA – MEKSIKO MAKIN DEKAT DAN BERSAHABAT

Indonesiadaily.co.id-, Suatu ketika beberapa tahun yang lalu Indonesiadaily bersama kru stasiun televise swasta berada di ...

MEMORIES OF PERU SELALU DI HATIKU

Indonesiadaily.co.id-, Menyebut negara Peru ingatan selalu pada suatu tempat yang menjadi salah satu situs bersejarah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *