Home / BUDAYA / MONOLOG VISUAL BUTET KARTAREDJASA

MONOLOG VISUAL BUTET KARTAREDJASA

Indonesiadaily.co.id-, Hidup ini, kata seniman yang mandep manteb berdomisi di Yogyakarta, Butet Kartaredjasa, saat ini menggelar pameran tunggal seni rupa dengan judul Goro -goro Bhineka Keramik di Galeri Nasional  Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 14, Jakarta Pusat,  musti berguru kepada matahari. Apa yang dikatakan Butet ini, jelas tidak mengada -ada. Bahkan menjadi suatu pernyataan yang filosofi sekali.

Butet Kartaredjasa

“Maka saya tulis sebagai puisi dengan judul Berguru Kepada Matahari”, ucap Butet, para koleganya sering menyapa dengan sapaan itu ,kepada Indonesiadaily di Jakarta, awal Desember 2017.

Puisi pendek yang ditulis Butet, di atas keramik, yakni di bagian belakang piring kecil, kalimatnya seperti ini : Belajar untuk selalu memberi, tanpa perna meminta. Puisi pendek karya Butet tersebut ditulis di Yogyakarta, 1 Desember 2017, yang dijadikan souvenir buat koleganya, sekaligus mengingatkan untuk koleganya, bahwa urip -yaitu hidup- ini sudah sepatutnya belajar pada matahari.

Goro-Goro Bhineka Keramik

Souvenir berupa keramik piring kecil yang bagian depan bergambar matahari menyinari sebongkah tubuh manusia sungguh menggugah. Yang menerima pemberian sovenir dari Butet  ini diharapkan tergelitik nuraninya, selalu memberi tanpa harus meminta. Apalagi meminta-minta.

Memberi lantaran Butet sudah tidak perlu lagi meminta-minta pada dunia kesenian yang ditekuni, sehingga apa yang diperoleh tercukupi. Sedang Butet melakukan hijrah karena selama ini dikenal sebagai aktor atau seniman yang bergiat dalam seni teater. Lebih dari tiga puluh tahun Butet menyelami seni teater.

“Dari teater saya paham sastra, makin tahu tentang seni rupa, juga kian mengerti seni musik. Dari teater juga ,saya bisa membedah makna puisi, serta maksud yang terkandung dalam cerita pendek. Melalui teater saya mengenal kuliner. Teater ternyata segalanya, apapun ada dalam kesenian”, kata Butet kepada Indonesiadaily pada suatu malam di Bentara Budaya Jakarta,sehari menjelang pembukaan pameran tunggal seni rupa Goro-Goro Bhineka Keramik.

Goro-goro Bhineka Keramik

Mengenai konten pameran yang merupakan perayaan persahabatan, terhadap keluarga, juga pada para kolega yang dicintai, Butet sengaja menyindir. Sindiran Butet terasa menggelitik dan para penikmat pamerannya hanya bisa tersipu. Apa yang dilakukan Butet melalui pamerannya itu tidak ubahnya monolog visual.

Butet bermonolog dengan karya keramiknya yang membuat penikmat pamerannya mengawang dan mengembara untuk menafsirkan ide-ide sang seniman serba bisa ini, termasuk membintangi film. Salah satu film yang dibintangi ialah Soegija, disutradarai Garin Nugroho.

Dengan pamerannya ini Butet, pria kelahiran Yogyakarta 1961 bersyukur  hidup di Indonesia. Bersyukur betapa di Indonesia memiliki kebhinekaan dan hal itu dijadikan sebagai modal sosial dan kultural. Maka kata Butet, jangan kapok menjadi Indonesia. Meski tantangan ke depan semakin sulit. Proses menjadi Indonesia harus diupayakan. Semuanya itu direspons dan ditawarkan Butet  dalam pamerannya yang ditata apik serta canggih. Karya-karya Butet yang berupa figur dan wajah  manusia Indonesia, gambar gunung dalam nuansa montase, serta seri patung babi hutan, adalah simbol kebhinekaan itu sendiri.

Bagaimanapun Butet menyindir dengan halus, dan sebetulnya tanpa menciptakan goro-goro. Keramik-karyanya yang diberi judul Hewan Perwakilan Rakyat, mau tidak mau membuat penikmat tertawa ngakak. Atau seri tentang Orang Suci, yakni karya keramik yang diberi judul Wong Suci Mampir Ngguyu,  Wong Suci Dihantar Energi dan Wong Suci Mengangkasa,  tidak lain refleksi yang menyeruak  dalam jiwa sanubari saat memandang kehidupan.

Goro-goro Bhineka Keramik

Salah satu Orang Suci yang direkam Butet adalah Gus Dur. Butet dengan gayanya yang khas, bercanda, dan memandang segala suatu persoalan dengan rileks serta tidak hitam putih, menyingkapi Orang Suci dengan candaan. Lukisan keramik karya Butet yang menggambarkan wajak sosok  Yesus,justru membuat bergetar. Pada karya itu terdapat tambahan kalimat Dijual Murah, yang bagaimanapun membikin penikmat tersipu.

Itulah kontemplasi Butet, bahwa saat ini terjadi meluasnya pendegradasi agama, teristimewa dalam politik. Jelas sindiran pahit yang digulirkan Butet. Itulah monolog visual yang digelar Butet Kartaredjasa sebagai perayaan persahatan dan rasa syukur betapa hidup di Indonesia membuat bahagia. Jangan kapok pameran, ya,  Butet. (snm; foto tc

Bagikan :

About Yayo Sulistyo

Check Also

DIBUTUHKAN KEPASTIAN HUKUM UNTUK MENYELAMATKAN SITUS KOTA KAPUR

Indonesiadaily.co.id-, Menjadi sorotan masyarakat Pangkalpinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bahwa situs Kota Kapur, terletak ...

TRADISI MAKAN BAJAMBA AKAN TERSAJI DI HARI PERS NASIONAL SUMBAR 2018

Indonesiadaily.co.id-, Makan Bajamba atau juga disebut Makan Barapak adalah tradisi makan yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dengan cara duduk ...

KOLABORASI DUA KEMENTERIAN MENGGELAR BUDAYA MARITIM 2017

Indonesiadaily.co.id-, Berkolaborasi melakukan program kerja dengan menjalin kebersamaan dan menggulirkan kreativitas, harapan, visi dan misi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *