Home / BUDAYA / KUMANDANG ING SEPI PERENUNGAN MUDJI SUTRISNO

KUMANDANG ING SEPI PERENUNGAN MUDJI SUTRISNO

Indonesiadaily.co.id -, Terlalu singkat pameran sketsa karya Mudji Sutrisno, digelar di Galeri Cipta 3 Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 30 Oktober – 02 November 2017. Pameran yang bertema Kumandang Ing Sepi, diterjemahkan Nyanyian Sepi, memang terasa hening. Sehingga untuk menikmati sketsa Romo Mudji,  demikian sapaan akrab Mudji Sutrisno S.J, mesti tenang, tanpa harus tergesa-gesa.

Kumandang Ing Sepi

Maka untuk menikmati sekaligus menyikapi karya sketsa Romo Mudji, tidak datang hanya sekali, setidaknya dua kali. Sayangnya pameran Romo Mudji ini sungguh terasa singkat. Buat Romo Mudji, sketsa adalah lukisan itu sendiri. Karena sketsa itu jujur, tulus, dan polos tidak digincu dengan warna warni. Menurut Romo Mudji tarikan garis-garis sketsa dan ekspresi jemari langsung dibuat  dengan hati.

Apa yang dikatakan Romo Mudji sangat terasakan tatkala menatap sketsa serial, sebanyak empat sketsa Untitled, tentang tragedi dan pengorbanan Kristus yang terluka dan teraniaya, yakni Kristus disalib. Serial sketsa tetsebut ekspresinya begitu kuat, bertenaga, spontan, sapuannya terkesan cepat, dan yang terpenting disimak bahwa sketsa karya Romo Mudji menyeruak pada esensi. Mesimplikasikan image, sehingga, menurut Marwan Yusuf yang menguratori pameran Romo Mudji ini, berujung penyederhanaan bentuk. Penyaliban Yesus adalah pengorbanan utuh dengan kerelaan dan kepatuhan total.

Mudji Sutrisno

“Saya membuat sketsa itu (acrylic on paper) dengan ujung jari. Saya torehkan jari ini ke kertas yang bergerak cepat dan spontan. Saking cepat dan spontannya, tahu-tahu selesai. Oya, mau tahu duri-duri yang di kepala itu saya gores dengan kuku. Ya, jadinya sketsa Paskah itu menjadi gambar yang hening”, ucap Romo Mudji kepada Indonesiadaily di ruang pameran Galeri Cipta 3 Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akhir Oktober 2017 menerangkan proses kreatif penciptaan sketsa penyaliban Yesus.

Sketsa Romo Mudji lainnya, yaitu candi,  gereja, dan perahu juga merupakan perenungan yang mendalam. “Saya mengggambarkan kehidupan ini berada di atas perahu. Kita ini selalu terombang-ambing dalam lautan maha luas, berada di atas samudera ilahi”, ucap Romo Mudji.

Kumandang Ing Sepi

Tentang candi ?, cara sketsa candi karya Romo Mudji digoreskan dengan garis optimal. Kekuatan garisnya memiliki tarikan yang tidak putus, sampai akhirnya terbentuk bangunan image yang mengerucut ke atas. Simbol ke puncak ilahi. Demikian pula sketsa mengenai gereja , teristimewa sketsa yang diberi judul Gereja Biru dan begitu ikonik, sebagaimana  menatap sketsa penyaliban Yesus.

“Candi itu bangunan yang dibuat khusus sebagai tempat pemujaan dewa. Jadi bagi saya candi itu sebagai dan merupakan wujud kepasrahan. Lantas perihal Gereja itu tempat berdoa dalam memasrahkan diri, maka sewaktu berdoa haruslah khusuk dan hening”, tegas Romo Mudji.

Seratus persen sketsa karya Romo Mudji yang dipamerkan berwarna hitam putih, kecuali sketsa Gereja Biru yang berwarna biru. Hitam putih buat Romo Mudji wujud pernyataan betapa kehidupan ini sebagai pergulatan antara yang hitam melawan yang putih. Kata lain bahwa harus ada hitam untuk mengimbangi putih dan satu sama lain, saling melengkapi agar hidup ini berjalan terus.

Tidak heran, dengan kepasrahannya, Romo Mudji berdoa untuk pametannya ini. Bunyi doanya ‘Tuhan jadikan pameran Sketsaku menjadi dialog-dialog keheningan hati’.

Kumandang Ing Sepi

Begitu hening tatkala memasuki ruang pameran sketsa Mudji Sutrisno S.J, rohaniawan yang ramah dan santun ini. Saat Indonesiadaily berkunjung menyaksikan pamerannya disambut dengan sikap teduh dengan menyapa terlebih dahulu. Begitu pula ketika sekelompok mahasiswa datang melihat pamerannya, mereka para mahasiswa itu disalami satu persatu. Kemudian para mahasiswa diajak berkeliling untuk melihat satu demi satu sketsa karyanya sembari diterangkan proses kreatif maupun filosofi sketsa karyanya. Sayang pameran sketsa Kumandang Ing Sepi singkat sekali, hanya empat hari. Kapan Romo Mudji pameran sketsa lagi  ?. (snm; foto din

Bagikan :

About Yayo Sulistyo

Check Also

DIBUTUHKAN KEPASTIAN HUKUM UNTUK MENYELAMATKAN SITUS KOTA KAPUR

Indonesiadaily.co.id-, Menjadi sorotan masyarakat Pangkalpinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bahwa situs Kota Kapur, terletak ...

TRADISI MAKAN BAJAMBA AKAN TERSAJI DI HARI PERS NASIONAL SUMBAR 2018

Indonesiadaily.co.id-, Makan Bajamba atau juga disebut Makan Barapak adalah tradisi makan yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dengan cara duduk ...

KOLABORASI DUA KEMENTERIAN MENGGELAR BUDAYA MARITIM 2017

Indonesiadaily.co.id-, Berkolaborasi melakukan program kerja dengan menjalin kebersamaan dan menggulirkan kreativitas, harapan, visi dan misi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *