Home / BUDAYA / KEDEKATAN BUNAWIJAYA TERHADAP ALAM ADALAH KESADARAN

KEDEKATAN BUNAWIJAYA TERHADAP ALAM ADALAH KESADARAN

Indonesiadaily.co.id-, Dulu di zaman old, tigapuluh, empat puluh tahun yang lalu di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, kerap dijumpai pedagang lukisan yang menggelar dagangannya di trotoar taman tersebut. Memang tidak setiap hari pedagang lukisan itu memajang alias memamerkan lukisan karya perupa anonim.

Karya Bunawijaya

Biasanya pedagang lukisan menggelar dagangannya pada akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu. Pembelinya tidak lain adalah turis asing, yang membeli sebagai cendera mata atau malah untuk dikoleksi sendiri. Lukisan yang dijual di Taman Suropati itu bergambar pemandangan alam seperti gunung, sawah, sungai, dan suasana desa yang ijo royo-royo. Pokoknya lukisan yang indah, molek, dengan sapuan cat warna kuning, cokelat serta warna hijau. Lantas siapa yang melukis, tidak disebut namanya.

Namun pedagang lukisan Taman Suropati tatkala itu membeli secara borongan, tanpa bingkai dari para pelukis yang berdomisili di suatu kota kecil yang letaknya sekitar 20-an kilometer dari kota Purwokerto, Jawa Tengah. Ya, pedagang lukisan Taman Suropati di zaman old itu, konon  membeli dengan harga murah, borongan lagi, dan lantas dijual dengan harga melambung yaitu bisa memasang bandrol 1-2 juta rupiah untuk lukisan berukuran besar dan sudah berbingkai pula.

Saat ini masyarakat berada di zaman now, masa gegap gempita, zaman hiruk-pikuk dengan situasi yang tergagap-gagap, dan bursa lukisan di Taman Suropati itu sudah tidak ada lagi. Yang ada bahwa setiap pagi di hari Sabtu dan Minggu, adanya warga setempat olahraga lari dan melakukan senam sehat. Kemana bursa lukisan pemandangan alam yang biasa mangkal di Taman Suropati sekian puluh tahun lalu, kini berganti tempat ?. Sepertinya sudah berpindah ke galeri, yang sekarang sudah menjadi tempat terhormat untuk menjual lukisan. Namun apa mungkin lukisan pinggir jalan atau lukisan pasaran itu dijajakan kini, di tempat bergensi yakni galeri ?. Sementara pula di tempat asal lukisan pasaran itu, sudah tidak diproduksi lagi. Para pelukisnya beralih profesi menjadi pedagang kuliner, yaitu berdagang makanan Getuk Goreng.

Mooi Indie Bunawijaya

Kiranya sebuah tragedi, jika dikatakan demikian, para pelukis tradisional yang tidak pernah menyantumkan namanya berganti haluan menjadi pedagang makanan. Sedangkan pelukis sekolahan (sekadar istilah saja), bahwa pelukis itu mengecap pendidikan pada perguruan tinggi seni rupa, tidak lagi melukis gambar pemandangan alam, terkadang pengamat seni rupa menyebut dengan sebutan Mooi Indie atau Hindia Molek, justru beralih melukis ke aliran abstrak maupun karya instalasi. Perupa masa kini, akan terpental bahkan terpinggirkan apabila melukis bergenre Mooi Indie. Perupa sekolahan yang berdiam di zaman now ini lebih menyukai menciptakan karya bergenre instalasi yang dianggap karya mentereng, karya kekinian.

Adalah perupa gaek bernama Bunawijaya lahir di Bandung 29 Oktober 1933, keturanan Tiongkok-Eropa, yang baru saja mengadakan pameran di Galeri Nasional Indonesia, pamerannya memajang 47 karya bergenre Mooi Indie berlangsung pada 19 Desember -5 Januari 2018, yang begitu gigih melukis pemandangan alam. Dan kenyataannya Bunawijaya sebagai perupa tidak terpinggirkan, tidak disingkirkan, dan tidak terkucil dengan menekuni aliran Hindia Molek. Justru selama 20 tahun Bunawijaya melukis tidak berubah haluan, tetap melukis pemandangan alam, ini artinya selama berkarya kedekatan Bunawijaya terhadap alam adalah kesadaran. Kesadaran menyerap alam sangat kuat bagi Bunawijaya dan sepertinya sudah menyatu dengan alam itu sendiri. Hal ini terlihat pada karyanya yang Lingkaran Kaki Langit I -IV maupun Panggilan Alam yang sungguh greget saat menatap karya itu.

Pemandangan alam yang dilukis Bunawijaya bukan dijadikan konsep, apalagi dipotret, terlebih lagi direkam lantas imajinasikan, melainkan diketengahkan dengan kesadaran pikiran sehingga lukisan Panggilan Alam menyuguhkan alam yang mistis, keindahan panorama yang jika pengunjung melihatnya akan tersihir. Sungguh terpukau dengan awan yang bergulung gulung bergelora penuh emosi, dan terlihat langit hitam, serta ditimpa bulan purnama bulat berwarna putih. Benar pemandangan alam yang kontras, dan inilah aliran Mooi Indie mashab kekinian.

Pameran Moi Indie Bunawijaya

Pameran tunggal Bunawijaya yang baru saja usai ini, dikuratori Jim Supangkat, kurator papan atas, terasa hidup, pasalnya dihidupkan oleh Eldwin Pradipta melalui pemutaran karya videonya. Karya Bunawijaya dideskripsikan ulang oleh Eldwin Pradipta yang karyanya diberi judul New Seascape, sehingga ciamik. Panorama laut dalam lukisan Lingkaran Kaki Langit I – IV, menjadikan laut terlihat indah penuh pesona. Betapapun pameran Bunawijaya yang mengetengahkan Mooi Indie kekinian, sulit untuk dilupakan dan dikenang selamanya. (snm; foto tcs)

Bagikan :

About Yayo Sulistyo

Check Also

LUDRUK IRAMA BUDAYA HIBUR MASYARAKAT JAKARTA DI BULAN AGUSTUS

Indonesiadaily.co.id-, Nasib kesenian tradisional memang makin memprihatikan, usaha untuk pelestarian terus dilakukan oleh para pelaku ...

MELALUI BIMBINGAN EDUKASI LANGSUNG GALERI NASIONAL LIBATKAN PELAJAR UNTUK MENJADI APRESIATOR SENI TERHEBAT

Indonesiadaily.co.id-, Melakukan kunjungan kepameran seni tengah menjadi fenomena bagi generasi muda perkotaan di Indonesia. Foto ...

SERUPA BUNYI PERAN GALERI NASIONAL INDONESIA DAN PENGUATAN PROGRAM INTERNASIONAL GAMELAN FESTIVAL 2018

Indonesiadaily.co.id-, Program dukungan/sinergi antar lembaga budaya telah dilaksanakan Galeri Nasional Indonesia (GNI) setiap tahun. Dalam ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *