Home / BUDAYA / Hingga Rentah Menjaga Budaya

Hingga Rentah Menjaga Budaya

Indonesiadaily.net Lombok-Sejak muda hingga tua rentah, namun tetap menjaga budaya leluhur yang diwariskan secara turun temurun. Itulah potret keturunan suku sasak di Desa Sade yang berada Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Keteguhan masyarakat Sasak di Desa Sade dalam memegang adat dan budaya mulai kita rasakan saat memasuki kawasan tersebut. Pengunjung mulai disambut warga yang menggunakan pakaian adat Sasak dan bangunan khas beratap daun alang-alang.

Dan ketika kita mengelilingi desa yang didiami 700 jiwa itu, kita masih dapat melihat para orang tua yang telah lanjut usia tetap bersemangat memintal kapas menjadi benang dan menenunnya menjadi kain dan beberapa produk lainnya.

“Kami disini merupakan keturunan ke-15 suku sasak Lombok. Dan hingga kini budaya para leluhur tetap kami jaga,”ungkap Udin (23) tahun dengan dialek khas suku sasak, saat menemani penulis mengunjungi desa Sade, beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini ada 700 jiwa yang mendiami Desa Sade, dengan kehidupan sebagaimana mestinya seperti para leluhur kami dulu. Beruntung saat ini desa kami telah ditetapkan menjadi kawasan wisata di Lombok Nusa Tenggara Barat, tutur Udin disela-sela mengelilingi rumah-rumah warga suku sasak Desa Sade.

Diceritakan Udin, ada kebudayaan lain yang menjadi ciri khas sukunya. Jika wanita kami menikah dengan orang luar, mereka harus membayar mahar dua ekor kerbau. Namun jika menikah sesama warga desa Sade, cukup menyiapkan mahar seperangkat alat sholat.

Dan aturan adat lainnya, Wanita Sasak yang akan menikah, harus bisa menenun kain. Mulai dari memintal kapas menjadi benang, dan menenun benang menjadi kain serta beberapa jenis pakaian.

“Aturan adat ini juga menurut Udin, membuat warga Desa Sade terjaga budayanya dari pengaruh luar.”

Wanita Sasak yang akan menikah, harus bisa menenun kain. Mulai dari memintal kapas menjadi benang, dan menenun benang menjadi kain serta beberapa jenis pakaian lainnya,”tambah Udin.

Ada hal menarik menjadi pembelajaran penting, setiap rumah suku Sasak memiliki pintu yang rendah. Siapapun yang akan masuk rumah tersebut harus menundukkan kepala.

“Setiap tamu harus menghormati tuan rumah. Sejatinya kita harus hidup harmonis, saling hormat menghormati,”tutur Udin memaknai pintu rumah yang sangat rendah tersebut, saat mengajak penulis memasuki rumah ketua adat suku sasak.

Keberanian dan Romantisme Dalam Pernikahan Suku Sasak

Satu hal yang menjadi catatan penulis dari cerita Udin, tradisi perkawinan Suku sasak yang disebut Kawin Culik, yang mengandung nilai keberanian dan romantisme dalam memulai pernikahan.

“Kalau kita sudah saling mencintai, kita culik kekasih kita dan disembunyikan dalam satu rumah yang tidak diketahui pihak keluarga wanita. Selanjutnya sang pria menghadap orangtua sang wanita untuk mengutarakan keinginannya untuk menikah.”

Setelah berbagai prosesi dilalui dengan kesepakatan, dan disepakati pernikahan secara adat, maka pasangan tersebut, akan menempati menempati rumah sementara (bale kodong). Rumah kecil untuk berbulan madu, hingga dapat membuat rumah yang lebih besar.

“Itu rumah kodongnya pak,”tunjuk Udin memperlihatkan rumah sangat kecil hanya cukup untuk dua orang, berdinding anyaman bambu dan atap ilalang dengan lantai tanah.(Hery FR)

Ft: Wanita tua suku Sasak diantara tenunan (ampenannews.com)

Bagikan :

About admin

Check Also

MENCARI HILAL DI EUR0PALIA ART FESTIVAL INDONESIA

Indonesiadaily.co.id-, Paling tidak ada dua film yang bertema pesantren diikut sertakan dalam Europalia Art Festival ...

GENEVIEVE COUTEAU MEMPERTANYAKAN KONTRUKSI SENI RUPA BALI

Indonesiadaily.co.id-, Tidak menyangka lukisan serial tentang masyarakat Ubud, Bali, dilukis perempuan ekspatriat bernama Genevieve Couteau ...

DUA KUTUB, DUA PERBEDAAN SATU JIWA

Indonesiadaily.co.id-, Ada yang tersisa dalam pikiran setelah melihat dan mengamati pameran perupa Masdibyo dan Gigih ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *