Home / BUDAYA / GENEVIEVE COUTEAU MEMPERTANYAKAN KONTRUKSI SENI RUPA BALI

GENEVIEVE COUTEAU MEMPERTANYAKAN KONTRUKSI SENI RUPA BALI

Indonesiadaily.co.id-, Tidak menyangka lukisan serial tentang masyarakat Ubud, Bali, dilukis perempuan ekspatriat bernama Genevieve Couteau yang lahir di Paris, Prancis tahun 1925. Perupa perempuan inipun ternyata ibu dari Jean Couteua, penulis dan pemperhati budaya yang tinggal di Bali, teristimewa daerah Ubud.

Jean Couteau

Sebagaimana ibunya, Jean Couteau baru saja menerbitkan buku berjudul Buna. Buku Buna ini ber kisah tentang perjalanan hidup seorang manusia campuran China Eropa yang mempunyai nama Tionghoa Bun Kim Heng Bunawijaya.

Kembali pada karya sang ibu yang dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta, berada di wilayah Gambir, mulai 25 Januari hingga 14 Februari 2018, sungguh menarik untuk dimaknai mengingat jarang perupa Eropa yang jika melukis manusia, sosok atau figur orang Bali seperti Genevieve Couteu ini, yakni melukis dengan sepenuh hari, begitu mengendap perasaannya  serta ketulusan yang tiada tara.

Pameran Genevieve Couteau

Lukisan karya Genevieve Couteau ini, teristiwa serial masyarakat Ubud, terasa halus, lembut, dan bermartabat. Lihat saja lukisan bertajuk Ubud Woman, berupa gambar hitam putih -pensil- yang dibuat tahun 1976. Ubud Woman, salah lukisan Genevieve Couteau yang tanpa disadari menyiratkan pesan humanitas dari sudut pandang seorang perempuan. Demikian lukisan serial masyarakat Ubud lainnya, selain Ubud Woman, justru malah mempertanyakan kontruksi sejarah seni lukis Bali.

Alih-alih perupa Eropa yang melukis figur manusia Bali selalu berkarakter perkasa. Oleh Genevieve Couteau ini dikontruksikan tanpa ada pergulatan maupun pemindahan budaya. Dengan goresan pensil itu, perupa yang melakoni hidup delapan puluh delapan tahun ini (1925-2013) merasakan dan memahami filosofi masyarakat Ubud dengan takaran tidak kurang, juga tidak lebih. Dan itulah perjalanan spiritual Genevieve Couteu yang diresapi , dihirup, selama penjelajahannya selama di Laos, dan di Ubud, Bali tentunya.

Genevieve Cauteu memang tidak lama berada di Laos, selama enam bulan (1968 -1969).Sesudah dari Laos menjelah ke beberapa negeri lain, sampai akhirnya memilih Bali dan wilayah yang dipilihnya Ubud. Setidaknya sebelum memutuskan tinggal di Bali, Genevieve Cauteu mempelajari kebudayaan Bali tentulah secara selayang pandang, kemudian menukik keakar budaya dan menatap Bali tahun 1970 -an yang bersuasana lamban, ritmenya bergulir pelan. Bisa dibayangkan jika Genevieve Couteu masih hidup, maka akan lain wujud karya. Kini Bali sudah hiruk-pikuk lantaran tergadai dengan pariwisata.

Pameran Genevieve Couteau

Sangat panjang menelisik kiprah dan eksistensi Genevieve Couteau dalam peta seni rupa Bali. Si ibu Jean Couteau ini justru melakukan kontruksi dengan estetik yang sebenar. Dan inilah pameran yang patut dan harus dikunjungi  sekaligus disambangi,  mengingat pameran ini punya bobot serta menyangkut pemindahan budaya yang mulus serta bergerak elegan. Jangan segan untuk menengok pameran lukisan dan gambar yang bertajuk Genevieve Couteau : The Orient and Beyond. Waktulah yang membuat perupa perempuan ini terdampar di Ubud, Bali. (snm; foto tcs)

Bagikan :

About Yayo Sulistyo

Check Also

FILM MANDALIKA UNTUK DUNIA

Indonesiadaily.co.id-, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadispar) Kabupaten Lombok Tengah H. Lalu Moh Putria S.Pd ...

PUTRIA SANG PENJAGA BUDAYA LOMBOK TENGAH

Indonesiadaily.co.id-, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah H. Lalu Moh Putria, S.Pd, M.Pd ...

UPACARA MATTOMPANG ARAJANG RANGKAI PERAYAAN HARI JADI BONE KE 688

Indonesiadaily.co.id-, Upacara adat Mattompang Arajang di gelar dalam rangka HUT ke-688 Pemerintah Kabupaten Bone, Sulawesi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *