Home / BUDAYA / DUA KUTUB, DUA PERBEDAAN SATU JIWA

DUA KUTUB, DUA PERBEDAAN SATU JIWA

Indonesiadaily.co.id-, Ada yang tersisa dalam pikiran setelah melihat dan mengamati pameran perupa Masdibyo dan Gigih Wiyono di Galeri Nasional, Gambir, Jakarta Pusat. Pameran yang bertajuk Dua Kutub sudah berakhir, yang berlangsung dari tanggal 10 s/d 21 Januari 2018.

Pameran Dua Kutub

Sebagaimana tajuk pameran Dua Kutub, memang karya kedua perupa itu, memperlihatkan perbedaan mencolok baik menyangkut tentang aliran maupun gaya yang disampaikan dalam wujud goresan serta warna, namun untuk urusan visi kedua perupa itu berada pada ranah satu jiwa.

Apa yang diungkapkan kedua perupa itu adalah kegelisahan terhadap negeri ini, betapa koruptor merajalela, berkeliaran dengan tidak mengenal strata dan kasta. Karakusan sudah menjadi bagian masyarakat serta tidak ada lagi rasa malu di negeri ini. Masyarakat ramai-ramai menggarong harta negeri tercinta yang begitu kaya rayanya.

Hal itulah yang membuat Indonesiadaily tertegun usai mencermati pameran Dua Kutub itu, sehingga ada yang tersisa dalam pikiran, bahwa kedua perupa itupun menampilkan karya yang unik karena berbeda wujud visual. Tetapi dalam tujuan menyampaikan pesan kedua perupa itu memiliki kebersamaan sikap, “Tidak ingin keserakahaan itu menjadi pandangan hidup bagi warga negara Indonesia”.

Karya Pameran Dua Kutub

Perupa itu berkultur saling bertolak belakang, Masdibyo asal Tuban, Provinsi Jawa Timur, sedangkan Gigih Wiyono dari Sukoharjo, Banyumas, bagian selatan Jawa Tengah yang sangat kental dengan budaya pertanian. Sementara Masdibyo akrab dengan budaya nelayan yang tidak jauh dari laut.

Dua lingkungan berbeda, demikianpun tradisi memang menyatukan dua perupa pada pameran Dua Kutub yang mengetengahkan  30 lukisan karya Masdibyo periode 2007 – 2017, dan karya Gigih Wiyono memajang 23 karya ditambah sembilan patung yang dibuat 2013 -2017.

Dua Kutub, dua poros, tegas-tegas adalah pernyataan kedua perupa ini dalam memaknai kehidupan. Tidak perlulah Indonesiadaily menyebutkan judul lukisan mereka berdua satu persatu, mengingat semua karya dua perupa itu menceritakan perihal hubungan manusia dengan manusia, dan mencerminkan tentang kekuatan alam yang dahsyat dan itulah kekuatan Tuhan. Manusia tidak ada apa-apanya serta tidak ada artinya. Juga karya kedua perupa itu, menggambarkan mengenai hubungan manusia dengan Tuhan.

Masdibyo dan Gigih Wiyono Pameran Dua Kutub

Hubungan itu, menurut kedua perupa kepada Indonesiadaily di Jakarta, usai pameran adalah hubungan berlandaskan cinta, spirit, dan kasih sayang. Hal-hal itu tidak lain energi, poros, atau sumbu yang menyatukan dalam satu kutub. Magnet yang saling tarik-menarik yang justru sumber ide penciptaan. Pameran Dua Kutub sudah usai, tapi tetap ada yang tersisa dibenak Indonesiadaily, yakni kapan Gigih Wiyono berpameran patung secara tunggal. Kapan ya pameran patungnya ?. (snm; foto mull)

Bagikan :

About Yayo Sulistyo

Check Also

LUDRUK IRAMA BUDAYA HIBUR MASYARAKAT JAKARTA DI BULAN AGUSTUS

Indonesiadaily.co.id-, Nasib kesenian tradisional memang makin memprihatikan, usaha untuk pelestarian terus dilakukan oleh para pelaku ...

MELALUI BIMBINGAN EDUKASI LANGSUNG GALERI NASIONAL LIBATKAN PELAJAR UNTUK MENJADI APRESIATOR SENI TERHEBAT

Indonesiadaily.co.id-, Melakukan kunjungan kepameran seni tengah menjadi fenomena bagi generasi muda perkotaan di Indonesia. Foto ...

SERUPA BUNYI PERAN GALERI NASIONAL INDONESIA DAN PENGUATAN PROGRAM INTERNASIONAL GAMELAN FESTIVAL 2018

Indonesiadaily.co.id-, Program dukungan/sinergi antar lembaga budaya telah dilaksanakan Galeri Nasional Indonesia (GNI) setiap tahun. Dalam ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *